Jakarta, 15 Agustus 2025 — Film animasi Merah Putih: One for All resmi dirilis pada 14 Agustus dan langsung mencuri perhatian. Sayangnya, bukan karena kualitas luar biasa, melainkan oleh deretan kritik pedas dari penonton maupun media tentang animasi yang disebut seperti slide PPT, penyutradaraan terburu-buru, serta penggunaan aset murah dari platform internasional. Berikut liputannya.
Kontroversi Kualitas Animasi dan Teknis
-
“Transisi kayak slide PPT”
Seorang penonton menyindir kualitas visual film ini karena transisi antar adegan yang terasa kasar dan tidak halus, layaknya presentasi PowerPoint. -
Penggunaan aset murah dari luar negeri terdokumentasi secara kritis.
Netizen menduga banyak aset grafis dibeli dari platform seperti Daz3D atau Reallusion Content Store—dengan harga di kisaran puluhan hingga ratusan ribu rupiah per karakter. Padahal, biaya produksi disebut mencapai sekitar Rp 6,7 miliar. -
Grafis dianggap “seadanya” untuk bioskop, bahkan trailer saja sudah bikin netizen sakit mata. Banyak komentar menyebut film ini tampak belum “siap tayang”.
Kritik Pedas Media dan Penonton
-
CNN Indonesia memberikan rating 1,0 dengan ulasan bahwa film ini “jelas tidak mencapai standar minimal film ‘bagus’ dalam bayangan saya.”
-
IDN Times mengulas teknis yang lemah—dialek suara karakter yang kaku, dialog monoton, continuity yang patah-patah, serta punch line yang “gagal lucu” karena lebih membuat penonton terbahak atas keanehan layar daripada tertawa bersama. Bahkan ruangan bioskop sepi penonton.
-
IMDB dan Letterboxd mencatat beragam komentar pedas seperti:
“The film is terrible. The animation, sound, plot, and the controversy surrounding it are all utterly dreadful, like garbage.”
“Satu dari nilai paling rendah film Indonesia—1/10.” -
Sebaliknya, ada juga sudut pandang yang lebih optimistis: seorang pengguna Letterboxd memberi nuansa haru, menyebut film ini berupaya menanamkan semangat kebangsaan lewat petualangan anak-anak dari berbagai daerah Indonesia.
Ringkasan Kritikan dan Respons
| Aspek | Detail Kritik |
|---|---|
| Animasi & Grafik | Transisi kasar, efek suara mengganggu, visual dianggap “amatir”, aset stok asing. |
| Dialog & Suara | Kaku, tidak ekspresif, sering overlap dengan latar, membuat bingung. |
| Alur & Produksi | Durasi pendek tapi terasa padat dan terkesan dipaksakan selesai cepat. |
| Respon Netizen | Banyak yang tertawa sinis atau merasa mati rasa karena penampilan film. |
| Media & Kritikus | Rating rendah, disebut tidak memenuhi standar film nasional. |
| Poin Plus | Tema persatuan anak bangsa dinilai bermakna oleh beberapa penonton. |
Merah Putih: One for All menjanjikan narasi heroik tentang persatuan dan kebangsaan, namun realisasinya terbentur dengan keterbatasan visual dan teknis. Meskipun difinansial besar, hasilnya tak setara—menimbulkan pertanyaan: apakah film ini lebih tepat disebut propaganda setengah jadi atau sekadar “uji kekuatan mata penonton”? Semoga hal ini menjadi pembelajaran bagi proyek animasi nasional berikutnya.
