Jakarta, 16 Agustus 2025 — Dalam pidato kenegaraan rapat gabungan MPR–DPR, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan lonjakan signifikan anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun 2026, naik dari sekitar Rp 71 triliun tahun sebelumnya menjadi Rp 335 triliun. Kebijakan ini dimaksudkan sebagai langkah monumental pemerintah untuk memperkuat gizi masyarakat dan mempercepat transformasi sumber daya manusia Indonesia.
1. Meningkat Pesat — Mengapa Anggaran Makan Bergizi Gratis Melonjak?
-
Alasan utama kenaikan anggaran adalah perluasan cakupan penerima manfaat. Awalnya berfokus pada 19 juta anak sekolah dan ibu hamil, kini ditargetkan mencapai 82,9 juta orang, termasuk balita, pelajar, dan ibu hamil.
-
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyebut bahwa pada tahun 2026 program akan berjalan “full speed” dari Januari hingga Desember, dengan penyerapan diperkirakan Rp 25 triliun per bulan. Struktur ini menjelaskan lonjakan anggaran secara realistis, bukan karena biaya per porsi meningkat.
-
Secara historis, alokasi anggaran MBG sebelumnya mencapai Rp 71 triliun, ditambah cadangan sebesar Rp 100 triliun, sementara total belanja pendidikan pada 2026 direncanakan mencapai Rp 757 triliun — tertinggi sepanjang sejarah.
2. Manfaat Sosial & Ekonomi: Lebih dari Sekadar Makan
-
Prabowo menegaskan bahwa MBG bukan hanya soal memenuhi asupan gizi, tetapi juga melawan stunting secara cepat dan menyeluruh serta mencetak generasi unggul Indonesia.
-
Program ini akan memberdayakan UMKM dan ekonomi lokal lewat penyediaan pangan lokal — seperti petani dan nelayan — sekaligus menciptakan ratusan ribu pekerjaan baru.
3. Tantangan Logistik & Keberlanjutan Anggaran
-
Diluncurkan awal 2025, program ini telah berjalan melalui pilot di 20 provinsi dan ditargetkan memperluas ke 83 juta penerima hingga 2029. Reuters menyebutkan akan dibangun hingga 30.000 “dapur layanan” (service units) yang tidak hanya memasak, namun juga menyerap produk pertanian lokal, mencipta 1 juta lapangan kerja baru.
-
Namun hingga pertengahan tahun, realisasi anggaran masih rendah—sekitar Rp 4,4 triliun atau hanya 2,6% dari anggaran tahunan. Program ini menghadapi tantangan seperti masalah distribusi, insiden keracunan makanan, dan kekhawatiran publik terhadap beban APBN.
-
Secara global, Associated Press menyoroti bahwa program ini mendesak secara moral, tetapi menimbulkan tanda tanya soal keberlanjutan fiskal di tengah target pertumbuhan APBN dan tekanan utang—meski pemerintah menyatakan siap menjalaninya.
Ringkasan Inti
| Aspek | Rincian |
|---|---|
| Anggaran MBG 2026 | Rp 335 triliun — naik tajam dari Rp 71 triliun tahun sebelumnya. |
| Penerima Manfaat | Target 82,9 juta orang (pelajar, balita, ibu hamil). |
| Tujuan Utama | Percepatan pengurangan stunting, generasi sehat, SDM unggul, pemberdayaan lokal, lapangan kerja baru. |
| Tantangan Kunci | Realisasi anggaran rendah, logistik distribusi kompleks, kritik fiskal keberlanjutan. |
| Respon Publik | Optimisme terhadap manfaat sosial, catatan soal pelaksanaan dan pengelolaan pajak negara yang efektif. |
Langkah menaikkan anggaran MBG menjadi Rp 335 triliun menunjukkan ambisi besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan gizi nasional dan kualitas SDM. Langkah ini merupakan sinyal kuat bahwa pembangunan manusia menjadi prioritas nyata. Namun kesuksesan program ini akan tergantung pada eksekusi yang efektif, respons logistik, dan transparansi penggunaan anggaran. Kepantasan mendapat hasil sosial yang optimal dan ekonomi yang stabil adalah tantangan utama bagi kebijakan ini.
