Kalimantan Barat – Haloklbar.com
Musim tanam padi telah tiba di Kalimantan Barat, dan bagi masyarakat Suku Dayak, ini adalah momen penting yang tidak hanya menandai dimulainya kegiatan pertanian, tetapi juga menjadi ajang untuk melestarikan adat dan budaya leluhur.
Aktivitas berladang, sebuah tradisi turun-temurun, kembali ramai dilakukan di berbagai wilayah pedalaman.
Masyarakat Suku Dayak bahu-membahu membersihkan lahan yang telah disiapkan untuk ditanami. Lahan yang tampak hangus terbakar ini adalah bagian dari metode pertanian tradisional yang dikenal sebagai sistem tebang-bakar, atau “berladang”.
Meskipun metode ini sering kali menimbulkan perdebatan, bagi Suku Dayak, ini adalah cara yang telah terbukti selama berabad-abad untuk mempersiapkan lahan agar subur dan siap ditanami padi.
Lebih dari sekadar mata pencaharian, berladang adalah fondasi kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Dayak.
Prosesnya melibatkan serangkaian ritual adat, mulai dari pemilihan lahan, persiapan, hingga upacara panen. Setiap tahapan memiliki makna mendalam, yang menunjukkan rasa syukur kepada alam dan nenek moyang.
Menurut salah seorang Masyarakat adat setempat, yang ada di Kabupaten Sanggau Yohanes Acoi berladang adalah salah satu cara utama Suku Dayak dalam mempertahankan ketahanan pangan keluarga.
“Ini bukan hanya soal menanam padi, tapi juga soal menjaga kehidupan. Hasil panen inilah yang akan kami gunakan untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga selama setahun ke depan,” ujar salah seorang Masyarakat Adat Yohanes Acoi adat. Pada 25 Agustus 2025
Bagi generasi muda Suku Dayak, berladang juga menjadi ajang pembelajaran untuk memahami nilai-nilai kebersamaan dan kerja keras.
Dalam prosesnya, semua anggota keluarga, dari yang tua hingga yang muda, terlibat aktif. Semangat gotong royong dan saling membantu sangat terasa, mencerminkan kuatnya ikatan kekeluargaan dan komunitas.
Dengan terus berjalannya tradisi berladang ini, masyarakat Suku Dayak Kalimantan Barat tidak hanya memastikan ketersediaan pangan bagi diri mereka sendiri, tetapi juga menjaga warisan budaya yang kaya dan unik agar tidak punah ditelan zaman.(***)
