Dari Rp100 Juta ke Rp65,5 Juta: Hitungan Lengkap Gaji DPR dan Reaksi Publik

Jakarta, 7 September 2025 — Isu gaji dan tunjangan anggota DPR RI kembali memicu perdebatan nasional. Setelah tekanan publik dan gelombang protes, DPR mengumumkan pemangkasan beberapa tunjangan — termasuk penghentian tunjangan perumahan — sehingga total take-home pay (THP) yang dipublikasikan kini disampaikan sekitar Rp65,6 juta per bulan. Keputusan itu sebagian menjawab kritik bahwa penerimaan legislator jauh melampaui rata-rata pendapatan rakyat dan upah minimum provinsi.


  • DPR menyatakan telah menghentikan tunjangan perumahan yang sempat jadi pemicu kemarahan publik; efeknya membuat total THP anggota turun dari angka yang sebelumnya dilaporkan lebih tinggi. Pengumuman resmi disampaikan pimpinan DPR dalam konferensi pers beberapa hari terakhir.

  • Angka yang kini beredar sebagai THP anggota DPR: Rp65.595.730 per bulan (sekitar Rp65,6 juta). Angka ini adalah agregat gaji pokok plus berbagai tunjangan melekat dan tunjangan konstitusional setelah pemangkasan beberapa komponen.

Penting: angka-angka sebelumnya (sebelum pemangkasan) yang beredar di publik sempat mencapai klaim lebih dari Rp100 juta per bulan—yang memicu protes—meskipun kemudian sejumlah tunjangan diklarifikasi/pangkas oleh DPR.


Tabel Perbandingan: Sebelum vs Setelah Pemangkasan

Komponen Sebelum (laporan publik) Setelah pemangkasan (dilaporkan DPR)
Gaji pokok Rp 4.200.000 Rp 4.200.000.
Tunjangan melekat (beras, komunikasi, asisten, dsb.) Besar — beragam, laporan total tunjangan melekat & operasional sempat membuat THP > Rp100 juta menurut beberapa perhitungan publik. Komponen melekat tetap (sekitar Rp16,7 juta total komponen melekat menurut rincian DPR).
Tunjangan perumahan Rp ~50 juta/bln (sumber klaim publik yang memicu protes). Dihentikan efektif 31 Agustus 2025.
Tunjangan jabatan & paket sidang Ada (besar variatif) Tetap ada dalam perhitungan; rincian disampaikan DPR.
Total THP Klaim publik beragam; sempat dipandang >Rp100 juta Rp65.595.730 per bulan (rincian DPR setelah pemangkasan).

(Catatan: perhitungan komponen tunjangan di lapangan melibatkan banyak ruang administrasi — beberapa komponen bersifat insidentil, perjalanan dinas, serta tunjangan non-tetap — sehingga angka “sebelum” sering diperdebatkan.)


Bandingkan dengan pendapatan rakyat

  • Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta 2025: sekitar Rp5,39 juta/bulan. Artinya THP DPR (Rp65,6 juta) ~12 kali UMP DKI. Perbandingan ini kerap menjadi bahan kritik publik.

  • Rata-rata upah sektor menurut BPS berada jauh di bawah THP anggota DPR; perbandingan semacam ini yang memperbesar citra jurang ekonomi antara wakil rakyat dan rata-rata warga.


  • Gelombang protes & kampanye online: Isu tunjangan DPR memicu protes jalanan dan trending di media sosial (tagar, video TikTok, posting X), dengan narasi “duduk nyaman di atas luka rakyat”. Banyak warganet mengunggah perbandingan angka dan menuntut transparansi penuh.

  • Respons positif sementara: Pemangkasan tunjangan disambut ringan oleh sebagian publik sebagai kemenangan tekanan rakyat, tetapi ada juga skeptisisme — publik menuntut audit menyeluruh, pembatalan tunjangan lain, dan jaminan bahwa penghematan benar-benar dialihkan untuk program publik.

  • Komentar politisi & DPR: Pimpinan DPR menyatakan langkah pemangkasan sebagai bentuk akuntabilitas dan transparansi; mereka juga meminta publik melihat komponen teknis yang masih melekat. Namun oposisi dan aktivis HAM menilai pemangkasan itu sebagian akibat tekanan publik, bukan inisiatif proaktif untuk reformasi struktural.


Sudut pandang pakar & LSM

  • Pengamat anggaran meminta publikasi lengkap semua komponen beserta dasar hukum dan total anggaran yang dialokasikan negara untuk remunerasi legislatif—agar perdebatan tidak berhenti di angka THP semata.

  • Organisasi masyarakat sipil menuntut audit independen, pembatasan fasilitas non-esensial, dan mekanisme transparansi berkala agar kejadian serupa tak berulang. Beberapa LSM juga menyoroti urgensi menata ulang sistem remunerasi agar fokus pada tugas representasi dan bukan fasilitas hidup berlebih.

Bagikan
Exit mobile version