Senin, 22 Septeber 2025 – Asap kendaraan adalah campuran kompleks: partikel halus (PM2.5 dan ultrafine particles), NO₂, karbon monoksida (CO), ozon sekunder, dan sejumlah senyawa organik volatil dan logam berat. Partikel berukuran <2.5 mikrometer (PM2.5) paling berbahaya karena mampu menembus sampai ke aliran darah dan menyebar ke organ-organ vital. Paparan kronis atau berulang memicu peradangan sistemik, stres oksidatif, dan perubahan vaskular yang pada akhirnya meningkatkan kejadian penyakit kardiovaskular dan kematian dini.
Bukti klinis: jantung, paru, dan risiko kematian
Studi besar dan review meta menunjukkan hubungan kuat antara PM2.5/NO₂ dan penyakit jantung, stroke, serta kematian dini. Bahkan paparan pada tingkat yang dulu dianggap “aman” tetap berkaitan dengan peningkatan rawat inap dan mortalitas — sehingga WHO merekomendasikan batas tahunan PM2.5 yang jauh lebih ketat (5 µg/m³). Badan lingkungan AS (EPA) juga menegaskan partikel halus meningkatkan risiko serangan jantung, perburukan asma, rawat inap, dan kematian.
Efek jangka panjang: kanker paru, gangguan perkembangan, dan otak
Paparan diesel dan emisi lalu lintas dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker paru pada pekerja berisiko tinggi dan populasi yang terpapar berat; agen seperti diesel exhaust telah dimasukkan dalam daftar yang menimbulkan kekhawatiran karsinogenik. Selain itu, bukti meta-analitik menunjukkan paparan TRAP (traffic-related air pollution) selama masa kanak-kanak dikaitkan dengan gangguan perkembangan pernapasan dan neurologis. Studi terbaru bahkan menemukan hubungan antara kenaikan PM2.5/NO₂ dan peningkatan risiko demensia pada populasi dewasa lanjut usia.
Mekanisme biologis — bagaimana asap “menyerang” tubuh
Partikel ultrafine dapat menembus alveoli paru lalu masuk darah, memicu inflamasi sistemik, mempercepat aterosklerosis (penumpukan plak pada pembuluh darah), dan merusak jaringan otak melalui oksidasi serta respon imun berlebih. Gas seperti NO₂ memperburuk respons saluran napas dan membuat infeksi pernapasan lebih berat. Secara kolektif, mekanisme ini menjelaskan mengapa paparan udara buruk meningkatkan kejadian asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serangan jantung, stroke, dan kerentanan neurologis.
Dampak lingkungan dan sosial-ekonomi
Selain efek kesehatan langsung, emisi kendaraan berkontribusi ke degradasi kualitas udara kota, pengendapan logam berat di tanah, serta pembentukan ozon troposfer yang merusak tanaman. Dampak kesehatan memicu beban ekonomi: lebih banyak kunjungan rumah sakit, produktivitas hilang, dan beban perawatan jangka panjang — terutama bagi kelompok rentan (anak-anak, lansia, penderita penyakit kronis, pekerja jalanan). Laporan global memperkirakan jutaan kematian terkait PM2.5 tiap tahun.
-
WHO (2021/2024): Batas aman PM2.5 direkomendasikan ~5 µg/m³ per tahun; polusi luar ruangan menyebabkan ratusan ribu hingga jutaan kematian prematur tiap tahun global.
-
Studi & review meta: Paparan jangka panjang NO₂ dikaitkan dengan peningkatan risiko all-cause dan kardiovaskular 3–7%.
-
State of Global Air: PM2.5 adalah penyumbang utama beban penyakit terkait polusi udara global.
-
EPA & HEI reviews: Keterkaitan kuat antara polusi partikel kendaraan dan masalah jantung-paru; diesel exhaust berisiko karsinogenik.
(Ini adalah lima klaim paling ‘load-bearing’ — setiap klaim di atas didukung oleh laporan/ulasan ilmiah terbarukan.)
