Bantuan Masuk ke Gaza Setelah Gencatan Senjata: Ribuan Truk, Ribuan Nyawa yang Menunggu

Gaza, 12 Oktober 2025 – Setelah gencatan senjata mulai berlaku, arus bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza meningkat tajam: badan-badan PBB dan LSM melaporkan peningkatan konvoi yang masuk, rencana pengiriman skala besar (ratusan truk per hari), serta upaya darurat untuk menyuplai makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan bahan darurat lainnya kepada jutaan warga yang terdampak perang. Namun kendala logistik, keamanan, serta kerusakan infrastruktur membuat tugas kemanusiaan tetap berat.


  • Skala masuknya bantuan: PBB dan mitra kemanusiaan menyebut rencana peningkatan hingga ratusan truk per hari (angka yang dilaporkan berkisar sampai ~600 truk/hari) untuk beberapa minggu pertama pasca-gencatan, dengan prioritas makanan, obat, dan pasokan medis.

  • Siapa yang terlibat: UN agencies (UNRWA, WFP, UNICEF, WHO), ICRC/Red Cross, dan ratusan LSM internasional serta mitra lokal berada di garis depan distribusi — bekerja sama dengan perantara regional untuk membuka jalur masuk melalui perbatasan Mesir dan titik pengiriman yang dikendalikan Israel.

  • Rencana jangka pendek: Sekretaris PBB & OCHA menyampaikan rencana 60-hari untuk mengatasi kebutuhan paling mendesak dan membangun kapasitas distribusi yang aman — termasuk penimbunan logistik, titik distribusi, dan distribusi keluarga per keluarga.


Aksi kemanusiaan segera terlihat: konvoi mulai bergerak, pusat pengumpulan logistik bersiap dan tim medis darurat menyiapkan klinik berjalan. Namun beberapa tantangan serius masih menghambat:

  1. Kerusakan infrastruktur — Jalan, jembatan, gudang, dan fasilitas kesehatan banyak yang hancur; beberapa kawasan masih dalam kondisi tanpa listrik dan air bersih, memperlambat distribusi dan kemampuan penyimpanan obat.

  2. Keamanan & akses — Meskipun ada gencatan, akses ke wilayah utara Gaza atau kawasan-kawasan yang paling parah hancurnya tetap terbatas karena isu keamanan dan prosedur clearance. Itu membuat sebagian besar bantuan harus dikonsentrasikan di titik-titik aman yang kadang jauh dari penduduk yang paling rentan.

  3. Risiko kelaparan & penyakit — Organisasi kemanusiaan memperingatkan bahwa jeda kecil dalam pasokan dapat memperburuk kondisi: banyak wilayah berada pada ambang kelaparan, dan layanan kesehatan yang runtuh meningkatkan risiko wabah penyakit.


Negara-negara donor dan organisasi internasional bersiap mengerahkan bantuan dalam jumlah besar dan menempatkan gudang logistik di negara tetangga untuk pengiriman cepat. WFP, misalnya, sudah menyiapkan kapasitas logistik untuk pengiriman massal bahan makanan siap edar, sementara UNICEF dan WHO fokus pada suplai medis dan vaksinasi darurat. UN juga menyusun rencana untuk meningkatkan kapasitas hingga ratusan ribu ton bantuan bila akses benar-benar dibuka secara konsisten.


Warga yang selamat menceritakan kepedihan dua tahun dihantam perang: rumah hilang, keluarga terpisah, dan persediaan makanan menipis hingga beberapa keluarga bertahan dengan satu atau dua makanan sehari. Kedatangan truk bantuan dan klinik mobile memberi secercah harapan — tetapi berharap bukan berarti kebutuhan langsung hilang; distribusi yang cepat dan aman tetap menjadi penentu keselamatan bagi jutaan warga.

Bagikan
Exit mobile version