Hutan Sanggau Terancam, Alat Berat Jarah Semoncol di Tengah Upaya Pelestarian AMAN

Sanggau,Haloklbar.com  – Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Semoncol, Kabupaten Sanggau, kini semakin mengkhawatirkan.

Tak lagi menggunakan peralatan tradisional, para pelaku tambang ilegal diduga telah mengerahkan alat berat jenis excavator untuk mengeruk hasil bumi secara masif.

Kondisi ini memicu reaksi keras dari Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kabupaten Sanggau, Hendrikus. Ia mengecam keras berlanjutnya aktivitas tersebut yang dinilai merusak ekosistem dan mengabaikan hukum yang berlaku.

Hendrikus, bersama sejumlah organisasi kemasyarakatan (Ormas) Dayak lainnya, menyatakan keprihatinan mendalam atas maraknya penggunaan alat berat di lokasi PETI.

Menurutnya, tindakan ini sangat bertolak belakang dengan upaya yang sedang dibangun oleh AMAN dalam melestarikan lingkungan.

“Kami sangat menyayangkan aktivitas ini terus berlanjut. Saat ini kami Masyarakat Adat di beberapa Komunitas sedang berjuang keras menjaga hutan di Kabupaten Sanggau agar tetap lestari, namun di sisi lain justru ada oknum yang merusaknya dengan ekskavator,” tegas Hendrikus.

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim Haloklbar.com, aktivitas PETI di Semoncol disinyalir telah terorganisir dengan rapi.

Para “cukong” atau pemodal PETI diduga kuat menggandeng salah satu oknum ormas Dayak untuk membentengi atau mem-backing kegiatan ilegal tersebut dari jangkauan hukum maupun protes warga.

Laporan di lapangan menyebutkan bahwa,Terdapat sedikitnya lima unit excavator yang beroperasi secara aktif di lokasi.

Pengerukan tanah dilakukan dalam skala besar yang mengancam struktur tanah dan aliran sungai di sekitar Semoncol.
Aktivitas ini dikhawatirkan memicu konflik horizontal di tengah masyarakat adat.

Hendrikus dan koalisi organisasi Dayak mendesak pihak berwenang untuk segera turun tangan tanpa pandang bulu. Mereka meminta aparat penegak hukum (APH) menindak tegas para pemodal dan oknum-oknum yang terlibat dalam pengrusakan lingkungan ini sebelum dampak kerusakan alam menjadi permanen.

Hingga berita ini diturunkan, tim redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait mengenai keberadaan alat berat di wilayah tersebut.(***)

Bagikan
Exit mobile version