Jejak yang Hilang: 10 Demonstran Belum Ditemukan Sejak Kerusuhan 25 Agustus

Jakarta, 6 September 2025 — Duka dan ketidakpastian masih menyelimuti keluarga para demonstran: setidaknya 10 orang dilaporkan masih belum ditemukan sejak gelombang unjuk rasa yang meletus pada 25 Agustus 2025. Data awal yang terekam lembaga hak asasi dan organisasi masyarakat sipil menunjukkan angka-angka yang beragam — dari puluhan laporan awal hingga verifikasi akhir yang menyatakan belasan hingga belasan masih belum berhasil dihubungi atau dipastikan nasibnya. Lembaga kemanusiaan menuntut klarifikasi cepat dari aparat dan pencarian intensif sebelum tanda tanya menyeret lebih jauh luka kolektif bangsa.


Sejak akhir Agustus, berbagai organisasi menerima puluhan laporan orang hilang di sejumlah kota besar—terutama Jakarta, Bandung, Depok, dan beberapa wilayah Jabodetabek. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menerima ratusan pengaduan; setelah proses verifikasi KontraS melaporkan daftar kasus yang masih belum tertuntaskan, dengan angka yang mengalami revisi saat tim verifikasi menemukan beberapa orang ternyata sudah ditemukan atau sedang ditahan namun belum terdata resmi. Laporan internasional juga mengutip angka yang bervariasi — beberapa outlet internasional menyebut hingga 20-an orang awalnya dilaporkan hilang.

Catatan penting: perbedaan angka ini bukan sekadar ketidakcermatan — melainkan cerminan proses verifikasi di lapangan yang sulit selama periode penahanan massal, pemblokiran informasi, dan beredarnya klaim tak terverifikasi di media sosial.


Berikut daftar nama yang disebut dalam basis data sementara KontraS / Databoks setelah proses verifikasi awal — sebagian masih menunggu konfirmasi lanjutan dari keluarga atau pihak berwenang:

  • Ahmad Baihaqi — terakhir terlihat di Central Jakarta.

  • M. Miftakhul Huda — terakhir terlihat di Central Jakarta.

  • Muhammad Farhan Hamid — terakhir terlihat di Central Jakarta.

  • Reno Syahputradewo — terakhir terlihat di Central Jakarta.

  • Romi Putra Prawibowo — terakhir terlihat di Central Jakarta.

  • Salman Alfarisi — terakhir terlihat di Central Jakarta.

  • Delta Surya Sindu Atmaja — terakhir terlihat di Bogor.

  • Heri Susanto — lokasi terakhir tidak pasti (dilaporkan kontak terputus).
    (Daftar di atas adalah potongan dari data verifikasi awal; sumber mencatat ada perbedaan antara jumlah yang dilaporkan awal dan jumlah yang terverifikasi sebagai masih hilang).


Keluarga korban mengeluh sulit memperoleh informasi: beberapa melaporkan bahwa anggota keluarga mereka ditangkap oleh aparat namun tidak tercatat di daftar tahanan di kantor polisi setempat; lainnya kehilangan kontak setelah meninggalkan rumah untuk ikut aksi. Seruan “informasi penuh” dan akses terhadap daftar tahanan serta proses hukum yang transparan kini menjadi tuntutan utama keluarga dan aktivis. Pengguna media sosial (X, TikTok, dan Facebook) ramai memposting nama-nama yang hilang, foto-foto terakhir, serta ajakan solidaritas dengan tagar yang terus bergulir — tetapi platform juga dipenuhi klaim yang belum terverifikasi, sehingga proses verifikasi menjadi krusial.


Tanggapan aparat & langkah pencarian

Pihak kepolisian menyatakan mereka sedang menginventarisasi tahanan dan menegaskan akan bekerja sama dengan lembaga terkait untuk memverifikasi laporan. Namun LSM HAM internasional dan KontraS menilai respons aparat belum cukup cepat dan mendesak agar pemerintah membuka data tahanan, memberi akses hukum bagi keluarga, dan mempercepat pencarian. Human Rights Watch mengingatkan pemerintah untuk menghentikan penahanan sewenang-wenang dan menjunjung transparansi dalam penanganan demonstran.


Risiko pelanggaran HAM dan permintaan investigasi independen

Sejumlah organisasi hak asasi memberikan peringatan: penahanan massal tanpa data resmi, penggunaan kekuatan yang berlebihan selama pembubaran aksi, dan munculnya laporan soal intimidasi atau perlakuan buruk terhadap demonstran berpotensi menimbulkan pelanggaran HAM serius. Mereka menyerukan pembentukan mekanisme investigasi independen—baik oleh Komnas HAM maupun panel multistakeholder—untuk memastikan akuntabilitas dan pemulihan bagi korban. Laporan internasional menyoroti bahwa pemeriksaan cepat dan transparan akan menjadi kunci meredam ketegangan serta mencegah tragedi berulang.


Media sosial berperan ganda: di satu sisi mempercepat pelaporan hilangnya orang dan mengorganisir dukungan; di sisi lain, arus posting tak terverifikasi, video yang terpotong, dan klaim palsu memperumit upaya pihak berwenang dan keluarga dalam menelusuri kebenaran. Fakt-checkers lokal dan platform internasional sedang bekerja mengidentifikasi disinformasi, namun keterlambatan verifikasi menambah kecemasan publik. Pembaca disarankan mengikuti saluran resmi KontraS, Komnas HAM, dan pengumuman kepolisian untuk informasi yang terverifikasi.

Bagikan
Exit mobile version