Sanggau,Halokalbar.com — Sebanyak 10 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terpilih di Kabupaten Sanggau resmi mengikuti kegiatan Inkubasi Bisnis Lestari melalui Program TUMBUH (Tempat UMKM Maju dan Berkelanjutan).
Pelatihan intensif yang berlangsung selama dua hari, 28–29 Juli 2026, di 180° Coffee and Eatery Sanggau ini digelar sebagai persiapan matang menuju ajang bergengsi Temu Usaha dan Mitra pada Festival Lestari 2026.
Program strategis ini diinisiasi oleh Komunitas Orang Muda Samudra Bekudong’k bekerjasama dengan Sabang Merah Berdompu serta Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disperindagkop) Kabupaten Sanggau.
Inkubasi dirancang untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha lokal, mulai dari penyempurnaan model bisnis, inovasi produk berbasis alam, strategi kemitraan, hingga kesiapan simulasi presentasi investasi (pitching).
Fokus Penguatan Bisnis dan Ekonomi Sirkular
Pada hari pertama, para peserta dibekali pemahaman mendalam mengenai konsep Produk Unggulan Daerah (PUD) Lestari, analisis usaha menggunakan metode SWOT dan fishbone analysis, serta strategi menghadapi calon mitra bisnis.
Diskusi berkembang seputar pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan, inovasi produk, hingga konsep ekonomi sirkular melalui pengolahan limbah.
Perwakilan Sabang Merah Berdompu, Kornelius Subandi, menekankan pentingnya pelaku usaha menjawab tantangan ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
“Pengembangan Produk Unggulan Daerah harus mampu menjawab tantangan ekonomi sekaligus menjaga prinsip keberlanjutan. Pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai merupakan salah satu bentuk ekonomi sirkular yang perlu terus didorong. Berbagai tantangan memang tidak dapat diselesaikan secara instan, namun persoalan tersebut dapat menjadi bahan diskusi bersama pemerintah maupun mitra untuk menemukan solusi berkelanjutan,” ujar Subandi. Kepada Halokalbar.com
Sementara itu, Project Leader Program TUMBUH, Akhmad Rizaldi, menjelaskan bahwa tujuan utama inkubasi ini bukan sekadar pameran produk, melainkan pembentukan kemitraan bisnis jangka panjang.
“Kita harus mampu memilih produk terbaik yang dimiliki untuk ditawarkan kepada calon mitra. Festival Lestari bukan hanya ruang untuk memamerkan produk, tetapi juga kesempatan membangun jejaring dan membuka peluang kolaborasi,” jelas Rizaldi.
Inovasi Produk Lokal dan Simulasi Pitching

Memasuki hari kedua, peserta diajak mempresentasikan rencana pengembangan usahanya.
Beragam produk lokal potensial dipaparkan, mulai dari kopi robusta, madu kelulut, lempok, jamu tradisional, kriya anyaman, hingga produk inovatif berbasis maggot dan limbah sawit.
Sekretaris Disperindagkop Kabupaten Sanggau, Silvester Roy Wiranto, mengingatkan peserta agar fokus memperkuat keunggulan utama produk ketimbang membuat terlalu banyak varian baru.
“Yang terpenting bukan banyaknya produk, tetapi bagaimana pelaku usaha memahami keunggulan produknya sendiri. Saat bertemu investor, satu produk terbaik sudah cukup mewakili usaha yang dijalankan,” kata Roy.
Tak hanya aspek teknis bisnis, peserta juga mendapatkan pelatihan kesiapan mental serta teknik komunikasi persuasif dari Psikolog Pratiningsih. Melalui simulasi pitching, peserta dilatih tampil percaya diri serta mampu menyampaikan nilai keunggulan produk secara efektif di hadapan investor.
“Manfaatkan semua peluang yang ada. Jangan takut ketika bertemu calon mitra. Sampaikan produk dengan percaya diri dan tunjukkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan,” pesan Pratiningsih.
Salah satu peserta, Ilham, pelaku usaha madu kelulut, mengapresiasi hadirnya program ini.
Ia berharap Festival Lestari 2026 dapat menjadi jembatan yang menghubungkan UMKM Sanggau dengan mitra bisnis dan investor yang memiliki visi pengembangan produk berbasis alam secara berkelanjutan.
Melalui program ini, Pemerintah Kabupaten Sanggau bersama Komunitas Samudra Bekudong’k optimistis mampu melahirkan Produk Unggulan Daerah (PUD) Lestari yang berdaya saing tinggi serta siap tampil di forum kemitraan bisnis tingkat regional maupun nasional.(***)




