Halo KalbarHalo Kalbar
  • Home
  • Indeks
  • Internasional
  • Nasional
  • Politik
  • Peristiwa
  • Kalimantan Barat
    • Bengkayang
    • Kapuas Hulu
    • Kayong Utara
    • Landak
    • Melawi
    • Mempawah
    • Pontianak
    • Sambas
    • Sanggau
    • Sintang
    Kalimantan BaratLebih Banyak
    Jembatan Kelampai Parindu Terancam Putus, Anggota DPRD Sanggau Wendy Krisandy Desak Penanganan Cepat
    2 hari lalu
    Musim Kemarau Tiba, BPBD Sanggau Ajak Masyarakat Kolaborasi Cegah Karhutla Sejak Dini
    2 hari lalu
    Pansel Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi dan Rekam Jejak JPTP Sanggau 2026, Ini Daftar Nama Pelamar yang Lulus
    2 hari lalu
    Disbunnak Sanggau Fasilitasi Pelatihan Biosekuritas Peternak Program CABI di Entikong
    3 hari lalu
    Foto : Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Disbunnak Kabupaten Sanggau, Ambius Anton
    Vaksin Rabies dan ASF Kosong di Sanggau, Hanya Vaksin Ayam yang Aman
    3 hari lalu
  • Lainnya
    • Ekonomi
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
    • Ragam
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Travel
    • Budaya
    • Otomotif
    • Kesehatan
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Halo KalbarHalo Kalbar
  • Bengkayang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
Pencarian
  • Home
  • Indeks
  • Kategori
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Nasional
    • Internasional
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Pendidikan
    • Peristiwa
    • Politik
    • Ragam
    • Teknologi
    • Travel
  • Kalimantan Barat
    • Bengkayang
    • Kapuas Hulu
    • Kayong Utara
    • Ketapang
    • Kubu Raya
    • Landak
    • Melawi
    • Mempawah
    • Pontianak
    • Sambas
    • Sanggau
    • Sekadau
    • Singkawang
    • Sintang
Halo Kalbar > Indeks > Ekonomi > OPINI: Menimbang Ulang Untung dan Buntung dari Kebijakan Tambang
Ekonomi

OPINI: Menimbang Ulang Untung dan Buntung dari Kebijakan Tambang

kornelis
Diperbarui: 18/08/2025 10:56
kornelis
12 bulan lalu
Bagikan

Haloklbar.com

Kebijakan pertambangan di Indonesia kerap menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, pemerintah dan korporasi memandang sektor ini sebagai mesin pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan, dengan potensi besar untuk meningkatkan pendapatan negara dan daerah.

Namun, di sisi lain, masyarakat lokal—terutama mereka yang hidup di sekitar area pertambangan—justru menanggung beban paling berat dari kebijakan ini, seringkali dengan dampak yang jauh lebih besar daripada manfaatnya.

Pendapat umum seringkali berfokus pada dampak positif pertambangan yang kasat mata: lapangan kerja, pembangunan infrastruktur, dan kontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Jalan-jalan baru yang mulus, jembatan yang kokoh, atau fasilitas kesehatan yang dibangun oleh perusahaan tambang seolah menjadi bukti nyata dari janji kemakmuran. Bagi sebagian masyarakat, ini adalah kesempatan untuk keluar dari kemiskinan dengan bekerja di sektor formal atau membuka usaha kecil yang menopang operasional tambang.

Baca juga

Bupati Sanggau Sambut Kedatangan Mendikbudristek RI, Nadiem Makarim
Wakil Presiden RI  K.H. Ma’ruf Amin Hadir di Kalimantan Barat 
Pastikan Program Makan Bergizi Gratis berjalan Polsek Jangkang datangi beberapa Sekolah lakukan Pendataan 

Namun, narasi tersebut seringkali mengabaikan dampak negatif yang lebih dalam dan sistemik. Kerusakan lingkungan adalah isu yang paling mendesak. Pembukaan lahan besar-besaran, pencemaran air akibat limbah, dan deforestasi merusak ekosistem yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat lokal.

- Advertisement -

Alih-alih mendapatkan manfaat, mereka justru kehilangan sawah, ladang, atau area tangkap ikan. Lubang-lubang galian yang dibiarkan begitu saja menjadi jebakan maut dan sarang penyakit.

Selain itu, pertambangan juga menjadi pemicu konflik sosial yang rumit. Sengketa lahan, kompensasi yang tidak adil, dan masuknya pekerja dari luar daerah seringkali menciptakan ketegangan yang memecah belah komunitas.

Masyarakat yang dulunya hidup rukun kini terbelah antara yang pro dan kontra tambang, bahkan tak jarang harus berhadapan dengan intimidasi dari pihak-pihak yang berkuasa.

Yang paling mengkhawatirkan adalah ketergantungan ekonomi yang diciptakan oleh sektor ini. Saat tambang beroperasi, masyarakat meninggalkan pekerjaan tradisional mereka, seperti bertani atau melaut. Ketika sumber daya habis dan tambang ditutup, mereka ditinggalkan dengan tanah yang rusak dan tanpa keahlian lain, berujung pada pengangguran massal dan kemiskinan yang lebih parah.

Pemerintah pusat perlu meninjau kembali kebijakan pertambangan dengan perspektif yang lebih adil dan berimbang. Keuntungan ekonomi tidak boleh mengorbankan kelestarian lingkungan dan hak-hak dasar masyarakat lokal.

Sudah saatnya kita tidak hanya berbicara tentang royalti dan pajak, tetapi juga tentang tanggung jawab, keadilan sosial, dan keberlanjutan. Sebuah kebijakan pertambangan yang sejati harus mampu menyeimbangkan ambisi ekonomi dengan kesejahteraan manusia dan kelestarian alam, bukan sekadar memindahkan kekayaan dari perut bumi ke segelintir kantong, sementara sisanya menanggung buntungnya.

Sumber : Haloklbar.com

Bagikan
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Gimana menurut kamu?
Suka0
Sedih0
Bahagia0
Ngantuk0
Marah0
Aneh0

Terpopuler

Kisah Haru Mas Kades Narto: Jadi ‘Ayah’ Bagi Anak Yatim Berkebutuhan Khusus di Hari Pertama Sekolah
Warga Desak Polisi Usut Tuntas Jaringan Penadah Emas Ilegal di Nanga Serawai
Komitmen Sinergisitas Penegakan Hukum: Kapolda dan Kajati Kalbar Pererat Hubungan Kelembagaan
Maxim Pontianak Beri Bantuan Fasilitas Sekolah dan Apresiasi Siswa ‘Best Client’
Beredar Dugaan Praktik Kecantikan Tanpa Izin di Pontianak, Warga Minta Aparat Turun Tangan

Berita Menarik Lainnya

Transformasi Ekonomi RI: Mengenal Lebih Dekat Program 8+4+5 ala Prabowo
11 bulan lalu
Ahli Waris Wajib Tahu! Panduan Lengkap Pajak Warisan, Tarif, dan Trik Legal Agar Bebas Bayar
11 bulan lalu
Reshuffle Bikin Panik: Investor Kabur, Rupiah & Saham RI Jatuh Bebas
11 bulan lalu
Kuliner Legendaris di Sanggau: Warung Nasi Aliang Tetap Memikat Pencinta Non-Halal
12 bulan lalu

Jl. Ahmad Yani No. 48 Sanggau,

Kecamatan Sanggau Kapuas
Kabupaten Sanggau
Kalimantan Barat 78513

Kalimantan Barat

  • Bengkayang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang
  • Bengkayang
  • Kapuas Hulu
  • Kayong Utara
  • Ketapang
  • Kubu Raya
  • Landak
  • Melawi
  • Mempawah
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sanggau
  • Sekadau
  • Singkawang
  • Sintang

Kanal

  • Budaya
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Teknologi
  • Travel
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ragam
  • Teknologi
  • Travel

Sosial Media

© 2021 - | Halo Kalbar