Bangkok, 6 September 2025 — Thailand kembali berada di pusat perhatian internasional. Dalam gelombang politik yang cepat, 5 September 2025, Mahkamah Konstitusi memecat Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra atas pelanggaran etik, pemerintahan sementara mengajukan pembubaran parlemen, dan parlemen kemudian memilih Anutin Charnvirakul sebagai perdana menteri baru. Perkembangan ini menuai sambutan yang beragam dari komunitas internasional — dari ucapan selamat hingga kekhawatiran atas stabilitas demokrasi di Thailand.
-
Mahkamah Konstitusi memecat Paetongtarn — Pengadilan menemukan pelanggaran etik terkait komunikasi diplomatik, yang memicu vakum politik dan serangkaian manuver koalisi.
-
Pemerintahan sementara mengajukan pembubaran parlemen — Langkah ini diumumkan sebagai jalan keluar dari krisis politik; partai-partai besar saling bernegosiasi antara opsi pemilihan baru dan pembentukan kabinet sementara.
-
Parlemen memilih Anutin Charnvirakul — Pemimpin Bhumjaithai meraih mayoritas (sekitar 311 suara) dan diharapkan diangkat secara formal oleh Raja; ia berjanji menggelar pemilu dalam beberapa bulan sebagai bagian dari kesepakatan politik dengan partai reformis.
Siapa Anutin Charnvirakul?
Anutin, 58 tahun, dikenal sebagai tokoh pragmatis yang memimpin Bhumjaithai dan populer karena kebijakan liberalisasi ganja medis/rekreasional semasa ia menjabat menteri kesehatan. Dia dipandang dekat dengan unsur konservatif dan elit bisnis, namun mampu menjadi jembatan antar-fraksi dalam politik Thailand yang terpolarisasi.
Reaksi internasional — campuran harapan dan kekhawatiran
-
China: Menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Anutin dan menekankan hubungan bilateral yang erat serta pentingnya stabilitas regional. Pernyataan resmi Beijing memberi isyarat dukungan diplomatik terhadap pemerintahan baru.
-
Amerika Serikat & beberapa aktor Barat: Dalam beberapa kesempatan sebelumnya AS telah menyuarakan kekhawatiran terhadap putusan-putusan pengadilan yang membubarkan atau menyingkirkan partai-partai pro-reformasi di Thailand — menganggap beberapa tindakan pengadilan berisiko melemahkan aspirasi demokrasi rakyat Thailand. Meski pernyataan resmi terbaru mungkin beragam, nada kekhawatiran terhadap proses hukum dan stabilitas politik tetap muncul dalam laporan diplomatik.
-
Uni Eropa & Parlemen Eropa: Selama beberapa bulan terakhir institusi Eropa menaruh perhatian pada perkembangan demokrasi dan hak asasi di Thailand, mendorong dialog dan perhatian pada lembaga-lembaga demokrasi.
-
Pengamat & Investor: Analis memperingatkan ketidakpastian jangka pendek bagi ekonomi dan investor asing; agenda seperti janji pemilu ulang dan janji reformasi konstitusi akan menentukan respons pasar dan aliran investasi.
Reaksi domestik — koalisi, oposisi, dan masyarakat
Di dalam negeri, reaksi bercampur: pendukung partai reformis kecewa dan khawatir soal “intervensi lembaga” terhadap politik elektoral, sementara kelompok konservatif dan bagian elit politik menyambut Anutin sebagai figur yang bisa meredam ketegangan. Ada pula tuntutan dari kelompok pro-reform untuk mempercepat referendum konstitusi dan pemilu baru agar legitimasi pemerintahan bisa dipulihkan.
Apa artinya bagi ASEAN dan geopolitik regional?
Thailand adalah aktor kunci di ASEAN. Perubahan cepat di Bangkok berpotensi mempengaruhi hubungan trilateral (Thailand–Kamboja), aliansi perdagangan, dan posisi geopolitik negara-negara besar yang memiliki kepentingan di kawasan — termasuk hubungan ekonomi dan diplomatik dengan China, AS, dan mitra Eropa. Negara-negara tetangga dan investor akan mengawasi janji pemilu dan stabilitas keamanan di perbatasan.
Dalil & kemungkinan skenario ke depan
-
Pemilu dalam 4 bulan: Jika Anutin memenuhi janji memilih pemilu cepat, ini bisa menurunkan ketegangan politik jangka pendek; namun mekanisme hukum yang menyingkirkan pesaing tetap menjadi sumber friksi.
-
Perpanjangan status quo: Jika proses politik berjalan via penataan parlemen dan kompromi antar-elite, reformasi substantif mungkin tertunda dan ketidakpuasan publik berisiko memicu protes baru.
