SANGGAU, HALOKALBAR.COM — Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Sanggau selama hampir tiga bulan terakhir memicu kekhawatiran masyarakat.
Sebagai upaya spritual dan bentuk kearifan lokal, masyarakat Dayak setempat menggelar ritual adat memohon turunnya hujan di kawasan Rumah Betang Raya Dori’ Mpulor.
Ritual sakral tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Sanggau, Yohanes Ontot, dan Wakil Bupati Sanggau Susana Herpena bersama para tokoh adat dan warga sekitar. Dalam tradisi masyarakat Dayak, ritual ini merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus doa bersama agar kondisi alam kembali seimbang.

Fenomena kekeringan yang berkepanjangan ini tak hanya menipiskan ketersediaan air bersih warga, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta melumpuhkan sebagian aktivitas harian masyarakat.
Bupati Sanggau, Yohanes Ontot, menyampaikan pentingnya menjaga nilai-nilai budaya di tengah tantangan bencana alam. Menurutnya, pelestarian kearifan lokal harus terus berjalan berdampingan dengan langkah nyata pemerintah.
“Upaya adat ini sangat berharga sebagai kearifan lokal, namun harus seiring dengan komitmen kita bersama dalam menjaga lingkungan serta mengantisipasi potensi karhutla di wilayah Sanggau,” ujar Yohanes Ontot. Pada 4 September 2026
Melalui ritual adat ini, masyarakat berharap hujan dapat segera mengguyur wilayah Kabupaten Sanggau agar pasokan air kembali pulih dan aktivitas lingkungan dapat berangsur normal.




