Jakarta, Haloklbar.com – Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) Tahun 2025 yang diselenggarakan lima tahun sekali resmi dibuka di Jakarta, menjadi forum penting bagi seluruh Gereja Katolik di Tanah Air.
Pertemuan akbar ini dihadiri oleh seluruh Uskup se-Indonesia, serta perwakilan umat dari total 37 Keuskupan ditambah satu Keuskupan Khusus TNI/Polri.
Dari Kalimantan Barat, Keuskupan Sanggau turut ambil bagian dalam kegiatan strategis ini dengan mengirimkan delegasi sebanyak sembilan orang.
Salah satu perwakilan yang menarik perhatian adalah Hendrikus Hengki, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sanggau.
Kehadiran Hendrikus Hengki menunjukkan komitmen dan peran aktif umat Katolik awam, khususnya dari kalangan tokoh publik, dalam merumuskan arah dan haluan Gereja Katolik Indonesia untuk lima tahun ke depan.
Berjalan Bersama Sebagai Peziarah Pengharapan
SAGKI 2025 yang berlangsung dari 3 hingga 7 November ini mengusung tema sentral:

“Berjalan Bersama Sebagai Peziarah Pengharapan: Menjadi Gereja Sinodal yang Misioner”. Tema ini sejalan dengan semangat sinodalitas Gereja Katolik universal yang diajukan oleh Paus Fransiskus.
Para delegasi, termasuk Hendrikus Hengki dan juga Ketua DPRD Sanggau, akan berdinamika bersama untuk:
Membahas dan merumuskan Arah Pastoral Gereja Katolik Indonesia periode 2025–2030.
Meningkatkan peran Gereja dalam mewujudkan perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan umum.
Memperkuat persaudaraan antara hierarki (uskup, imam) dan umat awam.
Keikutsertaan perwakilan Keuskupan Sanggau diharapkan dapat membawa aspirasi dan pengalaman umat dari wilayah perbatasan dan pedalaman Kalimantan Barat ke tingkat nasional, sekaligus memperkaya hasil-hasil sidang yang akan menjadi pedoman bagi seluruh Gereja Katolik di Indonesia.
“SAGKI ini adalah momen bagi kita semua untuk mendengarkan, merefleksikan, dan bergerak bersama, memastikan Gereja Katolik semakin relevan dan signifikan bagi bangsa dan negara” Ungkap Hendrikus Hengki.
Sidang Agung yang digelar setiap lima tahun sekali ini menegaskan kembali peran strategis Gereja Katolik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan fokus pada pelayanan dan kesaksian iman di tengah masyarakat yang majemuk.(***)
